Senin, 12 April 2010

KHUSYU

Dambaan setiap insan yaitu merasakan kebahagiaan, baik lahir maupun batin. Satu cara yang bisa mengantar kepadanya adalah sikap khusyu’. Karena, khusyu’ merupakan sesuatu yang sangat tinggi nilainya dan hiasan dalam setiap derap kehidupan. Khusyu’ diperoleh dengan kerja keras yang menguras banyak energi.

Sebagaimana diucapkan oleh sahabat Hudzaifah bin Yaman, “Yang pertama kali hilang dari agama kalian adalah shalat. Berapa banyak orang yang mendirikan shalat namun tidak ada kebaikan didalamnya. Begitu cepat mereka masuk masjid untuk berjama’ah namun engkau tidak melihat seorang pun di antara mereka yang khusyu”.

Allah telah berfirman tentang khusyu ini, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyu’ hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)?” (QS. al-Hadid : 16)

Makna Khusyu'


Khusyu’ adalah ketentraman, ketenangan, perasan takut, kesehjateraan dan tawadlu. Secara singkat adalah merasa takut terhadap Allah dan selalu memperhatikan segala apa yang diperintahkan-Nya. Juga berdirinya hati di hadapan Allah dengan penuh ketundukan dan perasaan hina. Yang jelas khusyu’ merupakan pengertian yang sejalan dengan pengagungan, cinta, kepatuhan dan ketundukan.

Khusyu mengharuskan sikap tunduk kepada kebenaran, yakni menerima dan tunduk patuh. Bahkan ini adalah tanda dari kekhusyukan.

Khusyu' yang Sejati

Khusyu’ merupakan amalan hati, dan akan terlihat hasilnya pada amalan anggota tubuh. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW saat melihat orang yang mengacak-acak jenggotnya saat sholat, “Sekiranya hati orang ini khusyu’ tentu anggota tubuhnya juga khusyu’.”

Jadi khusyu’ yang sejati adalah khusyu’ yang timbul dari hati yang suci bersih, penuh cinta dan pengagungan terhadap Allah. Itulah khusyu’ keimanan yang dijelaskan oleh Al-Imam Ibnul Qoyyim tentangnya, “Khusyu’ keimanan adalah kekhusyu’an hati terhdap Allah, dengan mengagungkan, membesarkan, tunduk, takut dan merasa malu terhadap-Nya. Kemudian hati itu terasa terpecah pecah, sesuai dengan perasaan malu dan kecintan-Nya terhadap Allah. Kemudian dia menyaksikan nikmat-nikmat Allah dan dosa-dosanya terhadap-Nya. Kemudian sang hati berada dalam kekhusyu’an yang sangat mendalam dan tidak ada tepiannya sama sekali. Dan hal itu diikuti oleh kekhusyu’an anggota tubuhnya.”

Tingkatan Khusyu

Khusyu’ keimanan ini mempunyai beberapa derajat, yaitu :

1. Tunduk kepada perintah, pasrah kepada hukum dan merendah karena melihat kebesaran. Tunduk kepada perintah berarti menerima, melaksanakan dan mengikuti perintah, menyelaraskan zhahir dan bathin, menampakkan kelemahan, memperlihatkan kebutuhan terhadap petunjuk pelaksanaan perintah tersebut sebelum melakukannya, pertolongan saat melaksanakan dan penerimaan setelah melaksanakannya.

2. Memperhatikan penghambat jiwa dan amal, maksudnya adalah melihat kekurangan dan aib serta amal, karena yang demikian ini bisa membuat hati menjadi khusyu’ karena melihat kekurangan dan aibnya, seperti; takabur, ujub, riya, tidak jujur, tidak yakin, niat yang bercabang dan aib-aib jiwa dan perusak amal lainnya. Melihat kelebihan orang lain atas dirimu, yakni memperhatikan hak-hak orang lain atas dirimu lalu engkau harus memenuhinya dan engkau tidak melihat bahwa apa yang mereka lakukan menghembuskan angin kefanaan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “ Orang arif ialah yang tidak melihat satu hak pun atas seseorang dan tidak memperlihatkan kelebihannya atas orang lain. Karena itu dia tidak boleh mencela, tidak menuntut, dan tidak membanding-bandingkan.’’

3. Menjaga kesucian saat mencapai tujuan, yaitu tetap menjaga jiwa agar tunduk dan merendahkan diri saat mencapai tujuan. Membersihkan waktu diri riya’ di hadapan orang lain dan tidak melihat kemuliaan diri sendiri. Tidak melihat kelebihan diri atas orang lain maksudnya tidak melihat kemuliaan dan kebaikan dirinya kecuali kebaikan itu datangnya dari Allah. Hanya Allahlah yang memberikan karunia tanpa ada sebab dari dirimu. Tidak ada yang memberi syafaat dan tidak ada yang menghantarkannya kepada kebaikan kecuali Allah semata.

Perkara khusyu’ ini harus diamalkan dalam setiap bentuk ibadah, bukan hanya dalam ibadah tertentu seperti shalat. Walaupun memang perkara khusyu’ dalam shalat mendapat perhatian penting karenaa aada ancaman bagi yang tidak khusyu’, “ Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang yang lalai dalam shalatnya”. ( Q.S Al-Ma’un : 4-5 ).

Juga pahala bagi orang yang khusyu’, “ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya”. (Q.S Al-Mukminun : 1-2 )
Modal yang harus dimiliki untuk memperoleh khusyu’ adalah makrifat (pengetahuan) tentang Allah yang benar dan mendalam yang melahirkn sikap mahabbah (cinta), khauf (takut) serta raja’ (pengharapan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar